Pada saat Empu Wayang membuat keris, orang-orang yang ada di sekitarnya banyak berdatangan untuk melihat. Karena kebaikan hatinya, Empu Wayang melatih mereka dan mengajarinya cara membuat keris.

Ia mengatakan bahwa membuat keris tidak mudah, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa, maka Empu Wayang berpesan agar melakukan sebisanya saja, “Ya ngentha- ngentha dhewe, arep digawe dadi apa?.” Lalu orang-orang ngentha-entha ‘mereka-reka’. Mereka menempa besi, ngentha-entha membuat alat-alat yang dapat digunakan untuk bercocok tanam. Ada yang jadi pacul (cangkul), arit, pisau, ani-ani (alat memetik padi) dan sebagainya. Beliau berkata, “Sesuk nek ana rejane jaman, papan iki dakjenengi Ngento-ento.” Sekelompok orang yang menyaksikan dan menyimak, mengangguk-angguk memahami kalimat yang disampaikannya tersebut yang berarti ‘pada suatu masa, tempat ini akan saya beri nama Ngento-ento.’

Situasi kondisi ini menjadikan Ki Wayang dipatuhi, disegani, dan dijadikan sesepuh di tempat yang dinamai Ngento-ento itu. Ki Wayang menjadi sesepuh di Padukuhan Ngento-ento dan diberi nama Empu Ento Wayang. Pada akhir hayatnya, ia dimakamkan di makam Gedong, Padukuhan Ngento-ento. Sayangnya makam tersebut tanpa penanda apa pun yang merujuk kepadanya.