Padukuhan Ngento- ento masuk wilayah Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Padukuhan ini banyak menyimpan cerita sejarah yang berkaitan pada masa kerajaan Majapahit, Kartosuro, dan Mataram. Tersebutlah Empu Sungkowo Harumbrodjo (69 tahun) adalah seorang empu pewaris darah Empu Supo dari jaman Majapahit. Hal ini dapat dilihat dari silsilah yang terpampang di dinding kediamannya di Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman. Beliau menuturkan tentang asal-usul nama Ngento-ento demikian juga Yusuf Wahyu Nuryanto (50 tahun), Dukuh Ngento-ento juga menyampaikan cerita yang sama dengan yang diterangkan Empu Sungkowo. Disamping itu ada juga cerita yang bersumber dari Aris Siwiastapa (63 tahun), mantan Carik Sumberagung (1993-2020) yang sebelumnya juga pernah menjabat Kaur Keuangan Sumberagung (1989-1993). Ia menuturkan cerita sejarah di Ngento- ento yang berhubungan dengan pelarian seorang prajurit kerajaan Kartosuro yang berasal dari cerita yang didengarnya secara turun- temurun. Selain itu, cerita juga didapatnya dari buku Babad Tanah Jawi (edisi Hard Cover) karya WL Othof yang telah dialihbahasakan oleh H.R. Sumarsono dan diterbitkan Narasi, Yogyakarta tahun 2014

Asal Mula Nama Ngento-ento

Diceritakan, pada jaman dahulu kala ada sekelompok orang yang bermukim di sebuah tempat terpencil di dekat sungai. Mereka hidup dengan bercocok tanam.

Pada suatu hari, tempat tersebut kedatangan seseorang yang bernama Wayang. Ia membaur dengan sekelompok orang yang bermukim di situ, dan diterima dengan baik. Wayang setiap hari menempa besi (pande besi) untuk dijadikan keris. Keris buatannya bagus sekali. Orang-orang kagum dan segan kepadanya. Usut punya usut, ternyata ia seorang empu dari kerajaan Kartosuro, keturunan Empu Supo dari kerajaan Majapahit. Waktu itu, ia melarikan diri ke arah barat menyelamatkan diri dari peperangan hingga ia menjadi sesepuh sekelompok kecil orang yang menetap di tempat itu.

Berikut ini silsilah dari Empu Wayang sebagai bukti jati dirinya (silsilah dari empu jaman Majapahit sampai dengan empu yang sekarang ada, yaitu Empu Sungkowo Harumbrojo): Empu Supodriyo (Majapahit) Kyai Empu Jokosupo (Majapahit) Kyai Empu Supoanom/Pangeran Sedayu (Tuban)-Kyai Empu Sektilanang (Tuban)-Nyai Panjang Emas/Istri Kyai Empu Panjang Emas (Mataram)-Kyai Empu Cindeamoh (Mataram)- Kyai Empu Suponyang (Mataram)-Kyai Empu Ento Wayang (Kartosuro)-Mas Ayu Kadarsih / Istri Pangeran Hangabei (Kartosuro)- Raden Ayu Pandit/Istri Kyai Empu Pandit (Surokarto)- Nyai Badur/Istri Kyai Empu Badur/Kyai Empu Badur(Ngento-Ento)- Kyai Empu Kartoyudo(Ngento-Ento)-Kyai Empu Joyosemito(Jenggalan)- Kyai Empu Joiruno( Jenggalan)-Kyai Empu Supowinangun (Jenggalan)-Kyai Empu Jeno Harumbrojo (Gatak Sumberagung)- Sungkowo Harumbrojo (Gatak Sumberagung).

Pada saat ia membuat keris, orang-orang yang ada di sekitarnya banyak berdatangan untuk melihat. Karena kebaikan hatinya, Empu Wayang melatih mereka dan mengajarinya cara membuat keris. Ia mengatakan bahwa membuat keris tidak mudah, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa, maka Empu Wayang berpesan agar melakukan sebisanya saja, “Ya ngentha- ngentha dhewe, arep digawe dadi apa?.” Lalu orang-orang ngentha-entha ‘mereka-reka’. Mereka menempa besi, ngentha-entha membuat alat-alat yang dapat digunakan untuk bercocok tanam. Ada yang jadi pacul (cangkul), arit, pisau, ani-ani (alat memetik padi) dan sebagainya. Beliau berkata, “Sesuk nek ana rejane jaman, papan iki dakjenengi Ngento-ento.” Sekelompok orang yang menyaksikan dan menyimak, mengangguk-angguk memahami kalimat yang disampaikannya tersebut yang berarti ‘pada suatu masa, tempat ini akan saya beri nama Ngento-ento.’ Situasi kondisi ini menjadikan Ki Wayang dipatuhi, disegani, dan dijadikan sesepuh di tempat yang dinamai Ngento-ento itu. Ki Wayang menjadi sesepuh di Padukuhan Ngento-ento dan diberi nama Empu Ento Wayang. Pada akhir hayatnya, ia dimakamkan di makam Gedong, Padukuhan Ngento-ento. Sayangnya makam tersebut tanpa penanda apa pun yang merujuk kepadanya.

Waktu berlalu, penduduk Ngento-ento semakin banyak yang bekerja sebagai pande besi. Mereka membuat cangkul, arit, ani-ani, dan sebagainya. Sebagian penduduk lainnya memasarkan produk tersebut ke luar Ngento-ento. Seiring perkembangan jaman, di abad modern ini mereka mengembangkan produk dengan teknologi yang lebih modern, yaitu las listrik, membuat pagar atau gerbang rumah, dan sebagainya.

Tempat Pelarian Raden Surya Kusuma

Selain menyimpan jejak sejarah tentang empu keturunan Empu Supo dari Majapahit. Padukuhan Ngento-ento juga menyimpan cerita lain tentang seorang pelarian dari kerajaan Kartosuro. Belum diketahui dengan jelas, apakah cerita dari Empu Sungkowo, yang menyebut pelarian tersebut bernama Tumenggung Jaya Negara, yang makamnya ada di Gedong, satu lokasi dengan Empu Ento Wayang. Ataukah seperti yang disebutkan Aris Siwiastapa, yang bersumber dari Buku Babad Tanah Jawi, yang menyatakan bahwa pelarian tersebut bernama Surya Kusuma, putera dari Pangeran Puger. Cerita ini perlu ditelusuri lebih lanjut.

Pada Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa pada waktu itu Prabu Amangkurat di Kartosuro adalah raja besar, menguasai tanah Jawa. Beliau adalah kakak dari Pangeran Puger. Sang Prabu tersebut hanya memiliki satu orang putra bernama Adipati Anom, dari garwa Ratu Kulon. Konon katanya, hal ini terjadi karena watak Ratu Kulon yang kurang terpuji kepada garwa-garwa Sang Prabu lainnya. Pada saat para garwa itu hamil, Ratu Kulon mengguna-gunai mereka hingga kehamilannya mengalami keguguran, bahkan hilang (??) sehingga tidak bisa memiliki anak.

Pada waktu Prabu Mangkurat wafat, dan dimakamkan di Magiri, para pelayat sudah pulang, tetapi Raden Surya Kusuma tidak mau pulang. Ia sedih karena tahta akan jatuh ke tangan Adipati Anom, putra satu-satunya Sang Prabu. Sedangkan Adipati Anom tabiatnya jahat, mudah marah, iri dengki, sombong, semena-mena, dan seterusnya. Kondisi tersebut menjadikan Raden Surya Kusuma tinggal di Padukuhan Ngento-ento. Ia menyiapkan barisan untuk menaklukkan desa-desa di sekitarnya. Ia terus dibujuk oleh abdinya, kamisepuh/kamituwa yang bernama Ki Surangga untuk kembali ke rumah tetapi tidak mau. Katanya, “Ki Surangga, jika Kang Mas Adipati Anom menggantikan menjadi raja, aku tidak sudi pulang. Sudah kupastikan jagad akan rusak, karena Kang Mas Adipati itu budinya sangat jahat. Menurutnya, sifat tersebut bawaan dari ibunya. Celakanya Sang Prabu hanya memiliki satu putra itu…!.” Pangeran Surya Kusuma lalu memerintahkan kepada Ki Surangga untuk menaklukkan orang-orang dan menyiapkan barisan. Bala pengikutnya banyak. Ia membuat bangunan, mereka-reka seperti kedhaton serta alun-alun di Padukuhan Ngenta-enta (Ngento-ento).

Sementara Raden Surya Kusuma membangun kekuatan di Padukuhan Ngento-ento, Pangeran Adipati Anom dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya. Raja baru pada akhirnya mendapat laporan bahwa Raden Surya Kusuma membangkang dan pengikutnya banyak. Sang Prabu marah dan menuduh Pangeran Puger, pamannya sendiri, membujuk anaknya untuk makar. Maka Pangeran Puger, beserta istri dan semua anaknya dipanggil, tidak boleh membawa pengikut dan semua keris harus diserahkan. Kemudian, mereka di penjara dimasukkan krangkeng yang diletakkan di tengah alun-alun dan dijaga oleh para pengawal dengan ketat. Setiap sore, para penjaga termasuk Ki Adipati Suma Brata dengan menunggang kuda, mengelilingi kerangkengan tersebut seraya menyindir dan menghina Pangeran Puger. Hati Pangeran Puger sedih. Ia merasa tidak pernah membujuk anaknya untuk makar. Ia menyesalkan perbuatan yang telah dilakukan anaknya dengan berani membangkang. Hatinya remuk redam. Tiap malam ia khusyuk berdoa memohon ampun kepada Allah, memohon kekuatan, serta pasrah jika akan dihukum mati oleh Sang Nata yang berkuasa.

Sang Prabu memerintahkan untuk menyerang Raden Surya Kusuma dan balanya yang sudah bergerak. Terjadilah peperangan seru. Karena bala yang kurang seimbang, Raden Surya Kusuma kalah, ia lari kembali ke arah barat. Sang Prabu yang sedang sinewaka mengatakan akan menghabisi Pangeran Puger. Hatinya senang mendengar laporan ketika balanya unggul dalam peperangan. Ki Suma Brata lalu memohonkan maaf Pangeran Puger kepada Sang Prabu karena Raden Surya Kusuma telah kalah. Berbagai pernyataan permohonan disampaikan Ki Suma Brata untuk meredam kemarahan Sang Prabu kepada Pangeran Puger. Akhirnya kemarahan Sang Prabu reda dan berkenan mengampuni Pangeran Puger dengan dua syarat. Syarat pertama, mau bersumpah tidak akan membujuk anak-anaknya untuk makar lagi. Syarat kedua, tempat tinggalnya harus pindah ke dekat alun-alun. Pangeran Puger berjanji memenuhi syarat tersebut. Akhirnya ia dibebaskan dari kerangkengan dan pindah rumah sesuai janji yang telah disampaikannya.

 

Penulis : Eny Murtiningsih